Selasa, 16 Agustus 2011

pesan untuk anak gadisku


pesan untuk anak gadisku
by Ana Chusnayatun on Monday, February 14, 2011 at 8:11am

Nak,janganlah engkau seperti gadis diiklan iklan itu
Mereka cantik tapi menurut umi sangat bodoh sekali
Betapa mereka tak merasa dihargai,
Hanya karena kulitnya yang tidak putih,
Sehingga merasa jadi pribadi yang tak berpotensi
Atau yang tidak percaya diri,
Hanya karena punya jerawat didahi,tapi pipi yang disabuni
Bahkan ada yang memamerkan ketiaknya dengan merobek baju yg dipakainya
Karena lebih yakin dengan itu pertolongan akan datang padanya..
Ada lagi…
Gadis yang tidak berani mengangkat tangan karena ketiaknya hitam
Tapi kemana mana memakai baju tak berlengan..
Juga gadis yang merasa ingin menghilang dari muka bumi
Karena baju yang sama dipesta,atau luka yang ada pada dirinya
Ada lagi…dan lagi…rasanya sangat naïf sekali…
Tapi tahukah kamu,seperti itulah dunia industry menilaimu
Menilai pribadi dan potensi gadis anak negeri
Bukan berdasarkan kecerdasan atau prestasi
Tapi semata semata apa yang ada pada dirinya,yang layak untuk dijual
Bahkan kalau bisa pada bagian yang paling pribadi

Anakku,sesungguhnya engkau diciptakan Allah dalam bentuk yang paling indah
Apakah kulitmu putih ataupun hitam
Apakah wajahmu halus mulus atau jerawatan
Apakah kau memiliki satu baju untuk kepesta atau segudang
Karena bukan itu yang menjadi penilaian dimata Allah
Dan sesungguhnya bukan itu pula yang jadi nilai dimata manusia
Hanya orang orang kerdil saja yang berpikir demikian
Dan kau tak perlu memutihkan ketiak,karena kau tak perlu memamerkannya
Ia adalah aurat yang harus kau jaga,maka Allah akan menjaga kehormatanmu juga
Jadilah pribadi yang melejit,karena kau kembangkan potensi dirimu
Tidaklah Allah menciptakan kekurangan pada manusia kecuali menyertai dengan kelebihannya
Setiap kita dinilai pada amalannya,bukan karena wujudnya
Apapun wujud yang ada pada dirimu,itulah kondisi terbaik yang Allah berikan
Rawatlah ia dan jagalah,tapi tidak berlebihan,
atau ingin mengubahnya menjadi lebih indah
Karena engkau sudah indah,
Sebab yang menciptakanmu adalah Sang Maha Indah.

Senin, 15 Agustus 2011

Serial Nasehat Romadlon, ikhlas


Ikhlas
Dalam sebuah Hadits dikatakan, Pada hari kiamat dikatakan kepada penghuni neraka yang paling ringan azabnya, “Jika kamu memiliki bumi dan seisinya dan Aku tambahkan yang serupa, apakah kamu akan menggunakannya untuk menebus dirimu dari neraka ini?” Penghuni neraka menjawab “ iya ya Allah”, Maka dikatakan, “Aku(Allah)  hanya menginginkan sesuatu yang lebih ringan daripada itu ketika kamu berada dalam tulang sulbi Adam, yaitu janganlah kamu menyekutukan Aku dengan apa pun. Tetapi kamu tidak berkehendak kecuali menyekutukan Aku dengan hal lain. (HR. Bukhari dan Muslim).

Pelajaran dari hadist tersebut, betapapun banyak amalan yang kita bangun tetapi tidak didasari oleh ketauhidan dan keikhlasan kepada Allah swt maka amalan tersebut menjadi sia-sia. Sebagaimana telah dinyatakan dalam al qur’an “Dan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan ketika di dunia , lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. “(Al-Furqaan: 23).

Imam Ibunu Kusairi di dalam sebuah kitabnya membagi keikhlasan dalam tiga tingkatan :
1.      Ikhlasul abidin, yaitu ikhlasnya para hamba atau pekerja. Tipikal golongan ini adalah mengerjakan sesuatu berdasarkan perintah atau karena ada imbalan upah. Jika tidak ada perintah maka ia akan diam. Dalam pengamalan agama ia hanya menunaikan yang wajib saja karena sudah jelas perintahnya, atau amalan lain yang telah diketahui fadilah atau pahalanya,  sedang yang sunah ia tinggalkan. Termasuk golongan ini adalah gemar menghitung-hitung pahala.
2.      Ikhlasul arifin, yaitu keikhlasan orang yang sudah memiliki pengetahuan. Dia tahu/”arif” mana yang harus dikerjakan dan mana pula yang mesti ditinggalkan tanpa menunggu perintah terlebih dulu. Mereka berbuat “lebih”, lebih baik dan lebih banyak disbanding orang-orang kebiasaan, sehingga mereka dimasukkan kedalam golongan orang sholeh.
3.      Ikhlasul muhibbin, yaitu ikhlasnya para pecinta yaitu para nabi dan rasul. Inilah contoh keikhlasan tertinggi.
Sebagaimana telah dikisahkan oleh Abu Hurairah menceritakan, Rasulullah selalu shalat malam sampai kakinya bengkak. Kemudian Aisyah bertanya,”Mengapa engkau melakukannya sampai begitu padahal dosa-dosamu sudah diampuni oleh Allah?” Apa jawab beliau? “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR Ibnu Majah)
Itulah Rasul saw, mendapatkan fasilitas pengampunan dosa dan kemuliaan diantara para manusia membuktikan dengan kecintaan dan rasa syukur, sedang manusia jika mendapatkan fasilitas/nikmat cenderung lalai. Dan jika mendapatkan kesempitan hidup barulah ingat akan Tuhannya.

Kita tidak mungkin mencapai derajat para nabi dan rasul namun kita bisa mengupayakn untuk menjadi orang sholeh asalkan kita memenuhi dua syarat :
Yang pertama adalah sungguh-sungguh. Keinginan apapun tidak akan tercapai kecuali dengan kesungguhan, dan bila kita bersungguh-sungguh maka manfaatnya kembali kepada kita. “ Dan, barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka kemanfatannya kembali kepada dirinya”, qs al ankabut ayat 6.
Yang kedua adalah konsisten. Tetap istiqomah untuk beribadah apapun kondisinya  sebagaiman doa yang diajarkan kepada Muadz bin Jabal  Allahumma a’inee ‘ala dhikrika, wa shukrika, wa husni ibadatik.

Sesi Tanya jawab.
Tanya 1,  Bagaiman mengukur keikhlasan saat amal sedekah kita disebut di muka umum.
Jawab, “Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS:Al Baqarah:274).
Ukuran keikhlasan ada pada hati, jika diumumkan sedekah kemudian hati menjadi gembira dan timbul kebanggaan saat itulah telah jatuh riya dan hapuslah pahala sedekah tersebut. Ingatlah, riya bisa muncul diawal amal, pertengahan maupun akhir. Oleh karena itu keikhlasan harus dijaga terus-menerus, jika mulai timbul bibit riya segeralah basmi dengan istighfar dan memurnikan niat lagi.

Tanya 2, Apa parameter iman sedang naik atau sedang turun?
Jawab. Untuk mengetahui kondisi iman sedang naik ataukah  sedang turun tentu harus ada “raport”. Raport tersebut bisa ditanyakan kepada orang-orang terdedekat kita, kawan seruangan, sekantor, anggota keluarga, tentang kondisi kita, bagaimana mereka menilai kita. Anas ibn Malik meriwayatkan bahwasanya Rasulullah S.A.W bersabda :
“Ada tiga hal yang apabila ketiga-tiganya ada dalam diri seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman : Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dibanding yang lainnya, mencintai seseorang karena Allah, dan tidak suka kembali kafir sebagaimana tidak suka kalau dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari 16,21, dab 6790. Dan muslim 128)

Tanya 3, saat romadlon katanya setan dibelenggu, nyatanya kita saksikan banyak juga orang nongkrong diwarung siang hari.
Jawab. "Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu sorga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu." [HR. Muslim] Makna "shufidat as-syayaathiin" adalah membuat setan tidak berdaya, dibelenggu secara fisik, dirantai kemudian dibuang atau diasingkan ketempat yang jauh. Setan masih ada disekitar kita hanya saja daya godanya sudah sangat melemah. Jika masih tergoda, berarti kondisi keimanan sedang lemah.









Serial Nasehat Romadlon, puasa


Serial Nasehat Romadlon
Berikut ini adalah ceramah di masjid pada saat taraweh, sebagai pengingat dikemudian hari, ceramah tersebut saya tulis sebatas ingatan saya. Selamat menyimak.

Puasa, pengantar ke surga
Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu katanya, "Aku berkata (kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam): "Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke surga?" Beliau menjawab: "Hendaklah kamu sering berpuasa, tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu" [Hadits Riwayat Nasa'i 4/165, Ibnu Hibban hal. 232 Mawarid, Al-Hakim 1/421, sanadnya Shahih]
Apa istimewanya ibadah puasa sehingga bisa menghantarkan pelakunya masuk surga. Paling tidak ada tiga hikmah yang bisa kita petik.

Yang pertama.
Puasa melatih keikhlasan. Puasa adalah satu-satunya ibadah yang terbebas dari riya. Seseorang bisa memamerkan sholatnya dihadapan khalayak. Sedekah maupun zakat sangat mungkin untuk dipublikasikan. Patut diwaspadai fenomena orang super kaya yang membagikan zakatnya secara langsung kepada ratusan fakir miskin. Ibadah haji sulit untuk tidak diketahui oleh masyarakat, bagaimana tidak, berangkat dan kepulangan para hujaj diantara oleh sanak kerabat dan tetangga sekitar.
Puasa? Tidak ada yang bisa dipamerkan sekalipun dengan berpura-pura lemas.

Yang kedua,
Melatih ihsan.  Makna Ihsan yang kita fahami adalah “Anta’budallah ka annaka taraah, fa’inllam takun taraah, fa’innahu yaraaka.”“Engkau mengabdi kepada Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Saat sedang berpuasa, seorang hamba tidak berani melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, makan minum misalnya, sekalipun tidak ada yang menyaksikannya. Ia merasakan muroqobatullah, adanya pengawasan Allah swt. Dalam kondisi demikian, maka ia akan berupaya sekuat tenaga untuk membaguskan amalnya. Nabi SAW bersabda :”Man shoma Ramadhana imanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min  zambihi. Barangsiapa yang melaksanakan puasa karena iman dan ikhlas, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dalam hadis lainnya disebutkan “ Wa man qoma Ramadhana imanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min zanbihi”. Dan barangsiapa yang mengerjalan puasa dan sholat Tarawih pada bulan Ramadhan karena iman dan ikhlas, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ( HR Bukhari-Muslim ).
Jika ihsan tersebut tidak hadir dalam hati orang yang berpuasa, maka ia hanya mendapatkan lapar dan dahaga belaka. Muslim meriwayatkan sebuah hadis berasal dari Abu Hurairah, suatu ketika tatkala naik ke mimbar untuk berkhutbah,Nabi mengatakan : Amin, amin… Abu  Hurairah heran, lalu bertanya kenapa Nabi bercakap sendirian mengatakan Amin. Rupanya Nabi SAW  sedang didatangi Malaikat  Jibril yang mengatakan : Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan, sedangkan dia tidak mendapat ampunan Allah SWT, maka kemungkinan dia akan masuk ke neraka,  semakin jauh dari         ( rahmat )  Allah SWT.

Yang ketiga,
Melatih kedisiplinan. Tidak seorangpun berani menerjang waktu berbuka, sekalipun hanya semenit. Tidak pula akan berleha-leha menikmati makan sahur ketika telah mendengar sirene imsak. Ini adalah contoh kedisiplinan dalam hal waktu.
Kedisiplinan dalam hal amal bisa kita lihat, ramainya orang berbondong-bondong memenuhi musholah dan masjid untuk menegakkan sholat taraweh, melantunkan al qur’an,  sedekah, dzikir dan amalan lainnya. Ia harus rela bangun diujung malam untuk makan sahur. Saat sahur, manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya, sholatlah meski  hanya dua rokaat, perbanyaknya dzikir dan do’a, karena do’a pada sepertiga malam terakhir itu maqbul. Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tuhan kita Yang Maha Suci lagi Maha Luhur setiap malam turun ke langit dunia ketika malam tinggal sepertiga terakhir. Dia berfirman: Barang siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan kabulkan permohonannya. Dan barang siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.(HR. Muslim).  Kedisiplinan yang akan menghasilkan konsistensi beramal.

Itulah tiga hikmah puasa yang sangat kita fahami bahkan nyaris setiap tahun para khotib mengulasnya. Namun ingatlah, semua orang akan celaka kecuali yang berilmu. Orang berilmu akan celaka kecuali yang beramal. Orang beramal akan celaka kecuali orang yang ikhlas.

Maka siapa saja yang ikhlas amalnya, kemudian amal baiknya senantiasa diperbanyak, dan itu dilakukan secara konsisten sampai romadlon tahun depan, rasanya sangat wajar ia masuk surga, insyaallah.
Selamat beribadah.



Senin, 30 Mei 2011

tabiat kebenaran

Kebenaran, al haq, laksana air. Ia akan mengalir, menemukan jalannya  sampai ke muara untuk berkumpul dalam komunitas besar  di samudra raya.  Sesuai wataknya, ia akan senantiasa mencari jalur dan menerobos setiap celah sekecil apapun. Jika ada yang membendungnya, ia akan menghimpun kekuatan  dan mendobrak penghalang tersebut sesuai tuntutan masanya.

Air menjadi tuntutan dan dambaan manusia. Sejarah telah mencatat bahwa pernah terjadi perang besar di daratan timur tengah lantaran perebutan sumber air. Manusia tidak bisa dipisahkan hidupnya dari air dan mereka berlomba-lomba memanfaatkannya.


Dalam perjalanannya, tidak semua air sampai ke samudra. Sebagian dibelokan melalui saluran irigasi untuk mengairi pertanian, dan memanfaatkan energinya untuk menggerakkan turbin PLTA. Sebagian lagi untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat perkotaan. Sebagian yang lain menguap ke langit untuk kemudian turun menjadi rakhmat berupa hujan.

Apapun peran yang dilakukan oleh air, senantiasa memberikan kemanfatan bagi alam dan manusia. Kalaupun turun hujan kemudan terjadi  banjir, semata-mata bukan kesalahan air melainkan kesalahan manusia yang telah merusak ekosistem alam. Konsistensi hukum alam berupa keseimbangan ~tawazun~ tetap terjaga. Para ilmuwan meyakini bahwa air yang menguap kelangit dan jumlah curah hujan volumenya sama, tidak lebih dan tidak kurang alias equal.

Begitu pula dengan kebenaran. Manusia tidak bisa hidup tanpa kebenaran sebagaimana manusia tidak bisa hidup tanpa air.  Semua menginginkan kebenaran itu eksis dan menang, karena kemenangan kebenaran kemudian identik dengan keadilan, kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi . Pejuang kebenaran itulah yang disebut pahlawan, meski gambaran tentang pahlawan bagi setiap orang berbeda. 

Manusia  berdasarkan interaksinya  dengan kebenaran  terbagi menjadi tiga golongan.
Yang pertama, golongan yang memperjuangkan kebenaran dan siap menanggung resiko atas pilihan hidupnya. Karakteristik golongan ini adalah kecintaannya kepada kebenaran sangat luar biasa dan membenci kebatilan sebagaimana kebenciannya kepada neraka.  Ia berusaha menjaga dirinya tetap konsisten, kemudian mengajak keluarga, handai taulan dan masyarakat terdekatnya agar berada dalam naungan kebenaran, supaya  mendapatkan barokah serta kebahagiaan hidup. Menyelamatkan umat dari segala marabahaya yang mengintainya dan mendoakan keselamatan umat  pada sujud malamnya. Pada saat yang sama, ia akan meluruskan yang bengkok dan membuang penghalang. Resiko yang akan diterima dari para pihak yang merasa kepentingannya terancam. Orang baik bukan berarti tidak memiliki musuh, namun siapa musuh dan dalam rangka apa dimusuhi,  inilah substansi yang penting untuk dievaluasi. Mereka ibarat starting eleven bagi tim sepakbola dan menjadi starter disetiap even.

Yang kedua, Penikmat kebenaran. Golongan ini bergembira ketika kebenaran dominan dan bersedih jika kebenaran kalah.  Mereka adalah orang baik yang taat syariat dan tekun beribadah. Mereka mendukung kebenaran dengan cara aman. Mereka adalah para supporter dengan tingkat militansnya masing-masing.

Yang ketiga, golongan yang menentang kebenaran. Golongan ini bukannya tidak paham akan kebenaran, namun ada hijab antara dirinya dengan al haq. Hijab tersebut adalah kesombongan ~ al kibru~ dan faktor kepentingan. Contoh yang sangat populer dari kalangan bangsa jin adalah iblis, dan dari kalangan manusia para pembesar Kuraisy. Hidup sejaman bahkan berinteraksi langsung dengan Pembawa wahyu saw, tidaklah menjadi jaminan seseorang mendapatkan hidayah.

Golongan manakah kita? Saya yakin diantara kita tidak ada yang menginginkan termasuk dalam golongan yang ketiga, naudzubillah min dzalik. Masuknya seseorang kepada golongan tertentu adalah kondisional bukan merupakan status. Artinya, seseorang bisa saja tercatat sebagai anggauta jamaatul  haq ~jamaah yang concern memperjuangkan kebenaran~  yang dalam konteks kenegaraan disebut dengan partai politik. Jika amaliyahnya tidak sesuai dengan khittah/alur perjuangan partai maka sejatinya ia bukan kelompok pengususng kebenaran meski tercactat sebagai anggota partai. Itulah yang dikatakan oleh Hasan Al Bana, sang pendiri  Gerakan Persaudaraan Islam/Ikhwanul Muslimin di Mesir, “kam minna laisa fiina” yang artinya berapa banyak dari kami tapi sejatinya bukan dari kami.

 Maknanya, betapa banyak orang yang tercatat sebagai anggota jamaah namun kelakuannya bertentangan dengan  tujuan jamaah, sejatinya ia bukan anggota jamaah. Dan betapa banyak orang  yang berada diluar jamaah  namun visi misinya sesuai dengan jamaah, merekalah anggota kami dan kami bagian dari mereka. Inilah yang menjadi pembatas dan rambu-rambu yang menentukan termasuk diwilayah mana kita berdiri.

Semangat dan amaliyah untuk menegakkan kebenaran demi kemakmuran dan kesejahteraan bangsa harus direvitalisasi, tidak peduli siapa patner kita. Pada kesempatan yang lain, alm, Prof. Dr. Necmettin Erbakan, perdana menteri Turki yang sekaligus pimpinan Partai Raffah  mengatakan kami akan bekerja sama sekalipun dengan partai setan asalkan demi kemakmuran dan kesejahteraan Turki. Kita mendapat pahala lantaran amal bukan status keanggautaan pada  suatu partai.

Roda perjuangan senantiasa berputar, bagi yang tidak sigap dan hati-hati ia bisa terpental. Ada tokoh popular , kita kenal sebagai aktifis kebenaran, tiba-tiba muncul melakukan manuver menyerang  mantan koleganya. Sebagian orang sesak dadanya oleh berita tersebut, sebagian lagi ada yang marah, namun ada pula yang tertawa. Paginya sebagai pejuang kebenaran, sorenya sebagai penyeru kebatilan. Perginya sang tokoh akan segera diganti oleh figure lain yang mendapat hidayah dari Allah swt. Kejadian tersebut adalah fenomena biasa dalam kancah perjuangan. 

Datang dan pergi silih berganti. Datang bergabung dalam barisan kebenaran adalah rakhmat, dan pergi menuju kebatilan adalah adzab. Jika kepergiaan seseorang dari barisan kebenaran membuat semangat kita melemah dan turut mundur, maka kita sendirilah yang akan merugi. Kitalah  yang lebih membutuhkan kebenaran, bukan dia atau mereka.  Kita hanyalah setetes air, samudra tidak kering lantaran  kehilangan setetes air dan arus sungai tidak semakin deras lantaran setes air pula.

Berpangku tangan membiarkan kebatilan sama artinya dengan merestui kebatilan tersebut. Tidak ada pilihan bagi kita kecuali pro aktif mendukung kebenaran. Dalam konteks demokrasi, memberikan suara kepada caleg atau partai yang menurut penilaian kita baik adalah bentuk tanggung jawab bersama, sedangkan abstain sama saja dengan pembiaran atau acuh tak acuh.

Saat tim kesayangan ~tim kebenaran~ mengangkat tropi kemenangan, saat itulah momen bahagia yang dinantikan telah tiba. Namun ingat, bagi para supporter,  sekeras dan seriuh apapun kita bersorak, tetap saja kita harus membeli tiket masuk stadion dan kita tidak menikmati bonus yang diterima oleh tim, kecuali sebatas euphoria rasa bahagia. Jadi, marilah menjadi starting eleven dalam penegakan kebenaran, meski nama tim tidak harus sama. Selamat berjuang.

pensiun, kapan?!

Usia 40 tahun adalah golden age kedua, golden age pertama adalah pada masa balita. Pada usia tersebut, rata-rata manusia mendapatkan momentum terbaik dalam kehidupannya. Apa istimewanya? Ya pada usia 40 tahun adalah fase umur yang menandai kematangan dan kemapanan hidup. Kematangan dari segi fisik, emosi dan spiritual. Kemapanan karir, keluarga, ekonomi dan status sosial.

Perinciannya sebagai berikut, saat usia 40 tahun adalah fase dewasa dalam kehidupan manusia. Kekuatan fisiknya optimal, meski staminanya tidak sekuat ketika ia berumur dua puluhan, lebih tahan bekerja dalam waktu yang lama. Emosinya stabil, tidak grusa-grusu, tidak juga gampang nesu. Rasio antara emosi dan logika,  kombinasinya tepat sesuai dengan takaran permasalahannya. Kesadaran akan beragama juga tinggi bukan sekedar formalitas belaka.
Mapan, mapan karirnya, mapan ekonominya, mapan keluarganya dan mapan pula status sosialnya. Tentu tidak sulit bagi kita untuk  membayangkannya, karena kitalah pelakunya, dan note ini saya dedikasikan kepada kawan-kawan yang telah melampui umur 40-an.

Kondisi saat ini, tentu berbeda dengan lima atau sepuluh tahun yang lalu. Dulu, jika hendak liburan susah karena ndak punya ongkos. Kini, kalau mau liburan repot nyari waktunya luangnya. Kata orang Pasirian, time is money..lha lak sami mawon. He he he…..

Ingat, roda terus berputar dan waktu terus bergulir. Setelah mendaki, sampailah dipuncak dan biasanya ruang yang tersedia dipuncak sangat sempit, sedang para pendaki dibelakang kita terus berusaha untuk menyususl. Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, kita harus mulai menuruni bukit. Sunatullahnya, perjalanan menuruni bukit lebih berat dan lebih sulit dibanding ketika mendaki. Inilah yang harus kita persiapan. Pensiun.

Kawan, pensiun pasti  akan tiba. Pensiun akan terasa indah bila kita yang mendatangi pensiun tersebut, artinya kitalah yang merencanakan kapan kita akan pensiun. Setahun, lima tahun, sepuluh tahun atau pensiun  secara alami, tidak masalah asalkan telah kita rencanakan sejak sekarang. Jujur, saya prihatin melihat nasib para pensiunan yang hidupnya nelongso.

Ada banyak kiat agar masa pensiun menjadi masa indah dihari tua. Salah satu yang harus dipikirkan adalah adanya passive income diluar gaji pensiun nantinya. Bagaimana caranya, setiap orang pasti memiliki kiat yang berbeda tentunya. Berapapun besarannya penghasilan, tidak jadi soal,  asalkan cukup. Cukup buat beli istana yang ada kolam renangnya. Cukup untuk beli ferari buat berakhir pekan. Cukup untuk beli yacht agar bisa berlayar mengarungi samudra. Cukup untuk beli moge supaya bisa ikut konvoi. Lha untuk mencukupi itu semua, terus kapan pensiunnya….

Lagi pula, orang memasuki masa pensiun  tuntutan kebutuhannya tidak banyak. Jaga kesehatan psikis agar tidak mengalami post power syndrome. Saat tua, kesehatan psikis menetukan kesehatan jasmani. Sebagai bahan renungan, saya kutip
 “Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (Q.S. al-Ahqâf: 15)
  • Agar kita pandai bersyukur atas nikmat yang telah kita terima.
  • Beramal sholih sebagai bekal pension hakiki.
  • Berbakti kepada kedua orang tua/mertua.
  • Mendidik anak cucu agar menjadi pribadi sholeh.
Mari bersiap-siap dan berkemas.

Selasa, 17 Mei 2011

wah...nggak ada sinyal

wah...gak da sinyal
padahal aku ingin sms dan ngobrol dengan jeng sri
pie...ki jeng
aku gak berani kurang ajar kepada tuhan
dengan menitip salam
aku juga gak mau nitip salam kepada burung
karena gak yakin mereka akan bisa keluar dari rimba
tidak juga kepada angin
karena arahnya susah ditebak akibat pemanasan global

wah....gak da sinyal
oei...aku browsing tiket penerbangan sajalah
nanti kita bisa ketemuan
gak da sinyal gak pateken, kata mendiang sang presiden
lha...da lah
kartu debit dan kartu kredit kok gak kreatif
menampilkan pesan yang sama...access denied

horrreee....sekarang ada sinyal
tapi pulsaku telah habis
darmooooo....