Kebenaran, al haq, laksana air. Ia akan mengalir, menemukan jalannya sampai ke muara untuk berkumpul dalam komunitas besar di samudra raya. Sesuai wataknya, ia akan senantiasa mencari jalur dan menerobos setiap celah sekecil apapun. Jika ada yang membendungnya, ia akan menghimpun kekuatan dan mendobrak penghalang tersebut sesuai tuntutan masanya.
Air menjadi tuntutan dan dambaan manusia. Sejarah telah mencatat bahwa pernah terjadi perang besar di daratan timur tengah lantaran perebutan sumber air. Manusia tidak bisa dipisahkan hidupnya dari air dan mereka berlomba-lomba memanfaatkannya.
Dalam perjalanannya, tidak semua air sampai ke samudra. Sebagian dibelokan melalui saluran irigasi untuk mengairi pertanian, dan memanfaatkan energinya untuk menggerakkan turbin PLTA. Sebagian lagi untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat perkotaan. Sebagian yang lain menguap ke langit untuk kemudian turun menjadi rakhmat berupa hujan.
Apapun peran yang dilakukan oleh air, senantiasa memberikan kemanfatan bagi alam dan manusia. Kalaupun turun hujan kemudan terjadi banjir, semata-mata bukan kesalahan air melainkan kesalahan manusia yang telah merusak ekosistem alam. Konsistensi hukum alam berupa keseimbangan ~tawazun~ tetap terjaga. Para ilmuwan meyakini bahwa air yang menguap kelangit dan jumlah curah hujan volumenya sama, tidak lebih dan tidak kurang alias equal.
Begitu pula dengan kebenaran. Manusia tidak bisa hidup tanpa kebenaran sebagaimana manusia tidak bisa hidup tanpa air. Semua menginginkan kebenaran itu eksis dan menang, karena kemenangan kebenaran kemudian identik dengan keadilan, kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi . Pejuang kebenaran itulah yang disebut pahlawan, meski gambaran tentang pahlawan bagi setiap orang berbeda.
Manusia berdasarkan interaksinya dengan kebenaran terbagi menjadi tiga golongan.
Yang pertama, golongan yang memperjuangkan kebenaran dan siap menanggung resiko atas pilihan hidupnya. Karakteristik golongan ini adalah kecintaannya kepada kebenaran sangat luar biasa dan membenci kebatilan sebagaimana kebenciannya kepada neraka. Ia berusaha menjaga dirinya tetap konsisten, kemudian mengajak keluarga, handai taulan dan masyarakat terdekatnya agar berada dalam naungan kebenaran, supaya mendapatkan barokah serta kebahagiaan hidup. Menyelamatkan umat dari segala marabahaya yang mengintainya dan mendoakan keselamatan umat pada sujud malamnya. Pada saat yang sama, ia akan meluruskan yang bengkok dan membuang penghalang. Resiko yang akan diterima dari para pihak yang merasa kepentingannya terancam. Orang baik bukan berarti tidak memiliki musuh, namun siapa musuh dan dalam rangka apa dimusuhi, inilah substansi yang penting untuk dievaluasi. Mereka ibarat starting eleven bagi tim sepakbola dan menjadi starter disetiap even.
Yang kedua, Penikmat kebenaran. Golongan ini bergembira ketika kebenaran dominan dan bersedih jika kebenaran kalah. Mereka adalah orang baik yang taat syariat dan tekun beribadah. Mereka mendukung kebenaran dengan cara aman. Mereka adalah para supporter dengan tingkat militansnya masing-masing.
Yang ketiga, golongan yang menentang kebenaran. Golongan ini bukannya tidak paham akan kebenaran, namun ada hijab antara dirinya dengan al haq. Hijab tersebut adalah kesombongan ~ al kibru~ dan faktor kepentingan. Contoh yang sangat populer dari kalangan bangsa jin adalah iblis, dan dari kalangan manusia para pembesar Kuraisy. Hidup sejaman bahkan berinteraksi langsung dengan Pembawa wahyu saw, tidaklah menjadi jaminan seseorang mendapatkan hidayah.
Golongan manakah kita? Saya yakin diantara kita tidak ada yang menginginkan termasuk dalam golongan yang ketiga, naudzubillah min dzalik. Masuknya seseorang kepada golongan tertentu adalah kondisional bukan merupakan status. Artinya, seseorang bisa saja tercatat sebagai anggauta jamaatul haq ~jamaah yang concern memperjuangkan kebenaran~ yang dalam konteks kenegaraan disebut dengan partai politik. Jika amaliyahnya tidak sesuai dengan khittah/alur perjuangan partai maka sejatinya ia bukan kelompok pengususng kebenaran meski tercactat sebagai anggota partai. Itulah yang dikatakan oleh Hasan Al Bana, sang pendiri Gerakan Persaudaraan Islam/Ikhwanul Muslimin di Mesir, “kam minna laisa fiina” yang artinya berapa banyak dari kami tapi sejatinya bukan dari kami.
Maknanya, betapa banyak orang yang tercatat sebagai anggota jamaah namun kelakuannya bertentangan dengan tujuan jamaah, sejatinya ia bukan anggota jamaah. Dan betapa banyak orang yang berada diluar jamaah namun visi misinya sesuai dengan jamaah, merekalah anggota kami dan kami bagian dari mereka. Inilah yang menjadi pembatas dan rambu-rambu yang menentukan termasuk diwilayah mana kita berdiri.
Semangat dan amaliyah untuk menegakkan kebenaran demi kemakmuran dan kesejahteraan bangsa harus direvitalisasi, tidak peduli siapa patner kita. Pada kesempatan yang lain, alm, Prof. Dr. Necmettin Erbakan, perdana menteri Turki yang sekaligus pimpinan Partai Raffah mengatakan kami akan bekerja sama sekalipun dengan partai setan asalkan demi kemakmuran dan kesejahteraan Turki. Kita mendapat pahala lantaran amal bukan status keanggautaan pada suatu partai.
Roda perjuangan senantiasa berputar, bagi yang tidak sigap dan hati-hati ia bisa terpental. Ada tokoh popular , kita kenal sebagai aktifis kebenaran, tiba-tiba muncul melakukan manuver menyerang mantan koleganya. Sebagian orang sesak dadanya oleh berita tersebut, sebagian lagi ada yang marah, namun ada pula yang tertawa. Paginya sebagai pejuang kebenaran, sorenya sebagai penyeru kebatilan. Perginya sang tokoh akan segera diganti oleh figure lain yang mendapat hidayah dari Allah swt. Kejadian tersebut adalah fenomena biasa dalam kancah perjuangan.
Datang dan pergi silih berganti. Datang bergabung dalam barisan kebenaran adalah rakhmat, dan pergi menuju kebatilan adalah adzab. Jika kepergiaan seseorang dari barisan kebenaran membuat semangat kita melemah dan turut mundur, maka kita sendirilah yang akan merugi. Kitalah yang lebih membutuhkan kebenaran, bukan dia atau mereka. Kita hanyalah setetes air, samudra tidak kering lantaran kehilangan setetes air dan arus sungai tidak semakin deras lantaran setes air pula.
Berpangku tangan membiarkan kebatilan sama artinya dengan merestui kebatilan tersebut. Tidak ada pilihan bagi kita kecuali pro aktif mendukung kebenaran. Dalam konteks demokrasi, memberikan suara kepada caleg atau partai yang menurut penilaian kita baik adalah bentuk tanggung jawab bersama, sedangkan abstain sama saja dengan pembiaran atau acuh tak acuh.
Saat tim kesayangan ~tim kebenaran~ mengangkat tropi kemenangan, saat itulah momen bahagia yang dinantikan telah tiba. Namun ingat, bagi para supporter, sekeras dan seriuh apapun kita bersorak, tetap saja kita harus membeli tiket masuk stadion dan kita tidak menikmati bonus yang diterima oleh tim, kecuali sebatas euphoria rasa bahagia. Jadi, marilah menjadi starting eleven dalam penegakan kebenaran, meski nama tim tidak harus sama. Selamat berjuang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar