Usia 40 tahun adalah golden age kedua, golden age pertama adalah pada masa balita. Pada usia tersebut, rata-rata manusia mendapatkan momentum terbaik dalam kehidupannya. Apa istimewanya? Ya pada usia 40 tahun adalah fase umur yang menandai kematangan dan kemapanan hidup. Kematangan dari segi fisik, emosi dan spiritual. Kemapanan karir, keluarga, ekonomi dan status sosial.
Perinciannya sebagai berikut, saat usia 40 tahun adalah fase dewasa dalam kehidupan manusia. Kekuatan fisiknya optimal, meski staminanya tidak sekuat ketika ia berumur dua puluhan, lebih tahan bekerja dalam waktu yang lama. Emosinya stabil, tidak grusa-grusu, tidak juga gampang nesu. Rasio antara emosi dan logika, kombinasinya tepat sesuai dengan takaran permasalahannya. Kesadaran akan beragama juga tinggi bukan sekedar formalitas belaka.
Mapan, mapan karirnya, mapan ekonominya, mapan keluarganya dan mapan pula status sosialnya. Tentu tidak sulit bagi kita untuk membayangkannya, karena kitalah pelakunya, dan note ini saya dedikasikan kepada kawan-kawan yang telah melampui umur 40-an.
Kondisi saat ini, tentu berbeda dengan lima atau sepuluh tahun yang lalu. Dulu, jika hendak liburan susah karena ndak punya ongkos. Kini, kalau mau liburan repot nyari waktunya luangnya. Kata orang Pasirian, time is money..lha lak sami mawon. He he he…..
Ingat, roda terus berputar dan waktu terus bergulir. Setelah mendaki, sampailah dipuncak dan biasanya ruang yang tersedia dipuncak sangat sempit, sedang para pendaki dibelakang kita terus berusaha untuk menyususl. Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, kita harus mulai menuruni bukit. Sunatullahnya, perjalanan menuruni bukit lebih berat dan lebih sulit dibanding ketika mendaki. Inilah yang harus kita persiapan. Pensiun.
Kawan, pensiun pasti akan tiba. Pensiun akan terasa indah bila kita yang mendatangi pensiun tersebut, artinya kitalah yang merencanakan kapan kita akan pensiun. Setahun, lima tahun, sepuluh tahun atau pensiun secara alami, tidak masalah asalkan telah kita rencanakan sejak sekarang. Jujur, saya prihatin melihat nasib para pensiunan yang hidupnya nelongso.
Ada banyak kiat agar masa pensiun menjadi masa indah dihari tua. Salah satu yang harus dipikirkan adalah adanya passive income diluar gaji pensiun nantinya. Bagaimana caranya, setiap orang pasti memiliki kiat yang berbeda tentunya. Berapapun besarannya penghasilan, tidak jadi soal, asalkan cukup. Cukup buat beli istana yang ada kolam renangnya. Cukup untuk beli ferari buat berakhir pekan. Cukup untuk beli yacht agar bisa berlayar mengarungi samudra. Cukup untuk beli moge supaya bisa ikut konvoi. Lha untuk mencukupi itu semua, terus kapan pensiunnya….
Lagi pula, orang memasuki masa pensiun tuntutan kebutuhannya tidak banyak. Jaga kesehatan psikis agar tidak mengalami post power syndrome. Saat tua, kesehatan psikis menetukan kesehatan jasmani. Sebagai bahan renungan, saya kutip
“Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (Q.S. al-Ahqâf: 15)
- Agar kita pandai bersyukur atas nikmat yang telah kita terima.
- Beramal sholih sebagai bekal pension hakiki.
- Berbakti kepada kedua orang tua/mertua.
- Mendidik anak cucu agar menjadi pribadi sholeh.
Mari bersiap-siap dan berkemas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar