Ikhlas
Dalam sebuah Hadits dikatakan, Pada hari kiamat dikatakan kepada penghuni neraka yang paling ringan azabnya, “Jika kamu memiliki bumi dan seisinya dan Aku tambahkan yang serupa, apakah kamu akan menggunakannya untuk menebus dirimu dari neraka ini?” Penghuni neraka menjawab “ iya ya Allah”, Maka dikatakan, “Aku(Allah) hanya menginginkan sesuatu yang lebih ringan daripada itu ketika kamu berada dalam tulang sulbi Adam, yaitu janganlah kamu menyekutukan Aku dengan apa pun. Tetapi kamu tidak berkehendak kecuali menyekutukan Aku dengan hal lain. (HR. Bukhari dan Muslim).
Pelajaran dari hadist tersebut, betapapun banyak amalan yang kita bangun tetapi tidak didasari oleh ketauhidan dan keikhlasan kepada Allah swt maka amalan tersebut menjadi sia-sia. Sebagaimana telah dinyatakan dalam al qur’an “Dan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan ketika di dunia , lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. “(Al-Furqaan: 23).
Imam Ibunu Kusairi di dalam sebuah kitabnya membagi keikhlasan dalam tiga tingkatan :
1. Ikhlasul abidin, yaitu ikhlasnya para hamba atau pekerja. Tipikal golongan ini adalah mengerjakan sesuatu berdasarkan perintah atau karena ada imbalan upah. Jika tidak ada perintah maka ia akan diam. Dalam pengamalan agama ia hanya menunaikan yang wajib saja karena sudah jelas perintahnya, atau amalan lain yang telah diketahui fadilah atau pahalanya, sedang yang sunah ia tinggalkan. Termasuk golongan ini adalah gemar menghitung-hitung pahala.
2. Ikhlasul arifin, yaitu keikhlasan orang yang sudah memiliki pengetahuan. Dia tahu/”arif” mana yang harus dikerjakan dan mana pula yang mesti ditinggalkan tanpa menunggu perintah terlebih dulu. Mereka berbuat “lebih”, lebih baik dan lebih banyak disbanding orang-orang kebiasaan, sehingga mereka dimasukkan kedalam golongan orang sholeh.
3. Ikhlasul muhibbin, yaitu ikhlasnya para pecinta yaitu para nabi dan rasul. Inilah contoh keikhlasan tertinggi.
Sebagaimana telah dikisahkan oleh Abu Hurairah menceritakan, Rasulullah selalu shalat malam sampai kakinya bengkak. Kemudian Aisyah bertanya,”Mengapa engkau melakukannya sampai begitu padahal dosa-dosamu sudah diampuni oleh Allah?” Apa jawab beliau? “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR Ibnu Majah)
Itulah Rasul saw, mendapatkan fasilitas pengampunan dosa dan kemuliaan diantara para manusia membuktikan dengan kecintaan dan rasa syukur, sedang manusia jika mendapatkan fasilitas/nikmat cenderung lalai. Dan jika mendapatkan kesempitan hidup barulah ingat akan Tuhannya.
Kita tidak mungkin mencapai derajat para nabi dan rasul namun kita bisa mengupayakn untuk menjadi orang sholeh asalkan kita memenuhi dua syarat :
Yang pertama adalah sungguh-sungguh. Keinginan apapun tidak akan tercapai kecuali dengan kesungguhan, dan bila kita bersungguh-sungguh maka manfaatnya kembali kepada kita. “ Dan, barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka kemanfatannya kembali kepada dirinya”, qs al ankabut ayat 6.
Yang kedua adalah konsisten. Tetap istiqomah untuk beribadah apapun kondisinya sebagaiman doa yang diajarkan kepada Muadz bin Jabal Allahumma a’inee ‘ala dhikrika, wa shukrika, wa husni ibadatik.
Sesi Tanya jawab.
Tanya 1, Bagaiman mengukur keikhlasan saat amal sedekah kita disebut di muka umum.
Jawab, “Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS:Al Baqarah:274).
Ukuran keikhlasan ada pada hati, jika diumumkan sedekah kemudian hati menjadi gembira dan timbul kebanggaan saat itulah telah jatuh riya dan hapuslah pahala sedekah tersebut. Ingatlah, riya bisa muncul diawal amal, pertengahan maupun akhir. Oleh karena itu keikhlasan harus dijaga terus-menerus, jika mulai timbul bibit riya segeralah basmi dengan istighfar dan memurnikan niat lagi.
Tanya 2, Apa parameter iman sedang naik atau sedang turun?
Jawab. Untuk mengetahui kondisi iman sedang naik ataukah sedang turun tentu harus ada “raport”. Raport tersebut bisa ditanyakan kepada orang-orang terdedekat kita, kawan seruangan, sekantor, anggota keluarga, tentang kondisi kita, bagaimana mereka menilai kita. Anas ibn Malik meriwayatkan bahwasanya Rasulullah S.A.W bersabda :
“Ada tiga hal yang apabila ketiga-tiganya ada dalam diri seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman : Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dibanding yang lainnya, mencintai seseorang karena Allah, dan tidak suka kembali kafir sebagaimana tidak suka kalau dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari 16,21, dab 6790. Dan muslim 128)
Tanya 3, saat romadlon katanya setan dibelenggu, nyatanya kita saksikan banyak juga orang nongkrong diwarung siang hari.
Jawab. "Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu sorga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu." [HR. Muslim] Makna "shufidat as-syayaathiin" adalah membuat setan tidak berdaya, dibelenggu secara fisik, dirantai kemudian dibuang atau diasingkan ketempat yang jauh. Setan masih ada disekitar kita hanya saja daya godanya sudah sangat melemah. Jika masih tergoda, berarti kondisi keimanan sedang lemah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar