Selasa, 16 Agustus 2011

pesan untuk anak gadisku


pesan untuk anak gadisku
by Ana Chusnayatun on Monday, February 14, 2011 at 8:11am

Nak,janganlah engkau seperti gadis diiklan iklan itu
Mereka cantik tapi menurut umi sangat bodoh sekali
Betapa mereka tak merasa dihargai,
Hanya karena kulitnya yang tidak putih,
Sehingga merasa jadi pribadi yang tak berpotensi
Atau yang tidak percaya diri,
Hanya karena punya jerawat didahi,tapi pipi yang disabuni
Bahkan ada yang memamerkan ketiaknya dengan merobek baju yg dipakainya
Karena lebih yakin dengan itu pertolongan akan datang padanya..
Ada lagi…
Gadis yang tidak berani mengangkat tangan karena ketiaknya hitam
Tapi kemana mana memakai baju tak berlengan..
Juga gadis yang merasa ingin menghilang dari muka bumi
Karena baju yang sama dipesta,atau luka yang ada pada dirinya
Ada lagi…dan lagi…rasanya sangat naïf sekali…
Tapi tahukah kamu,seperti itulah dunia industry menilaimu
Menilai pribadi dan potensi gadis anak negeri
Bukan berdasarkan kecerdasan atau prestasi
Tapi semata semata apa yang ada pada dirinya,yang layak untuk dijual
Bahkan kalau bisa pada bagian yang paling pribadi

Anakku,sesungguhnya engkau diciptakan Allah dalam bentuk yang paling indah
Apakah kulitmu putih ataupun hitam
Apakah wajahmu halus mulus atau jerawatan
Apakah kau memiliki satu baju untuk kepesta atau segudang
Karena bukan itu yang menjadi penilaian dimata Allah
Dan sesungguhnya bukan itu pula yang jadi nilai dimata manusia
Hanya orang orang kerdil saja yang berpikir demikian
Dan kau tak perlu memutihkan ketiak,karena kau tak perlu memamerkannya
Ia adalah aurat yang harus kau jaga,maka Allah akan menjaga kehormatanmu juga
Jadilah pribadi yang melejit,karena kau kembangkan potensi dirimu
Tidaklah Allah menciptakan kekurangan pada manusia kecuali menyertai dengan kelebihannya
Setiap kita dinilai pada amalannya,bukan karena wujudnya
Apapun wujud yang ada pada dirimu,itulah kondisi terbaik yang Allah berikan
Rawatlah ia dan jagalah,tapi tidak berlebihan,
atau ingin mengubahnya menjadi lebih indah
Karena engkau sudah indah,
Sebab yang menciptakanmu adalah Sang Maha Indah.

Senin, 15 Agustus 2011

Serial Nasehat Romadlon, ikhlas


Ikhlas
Dalam sebuah Hadits dikatakan, Pada hari kiamat dikatakan kepada penghuni neraka yang paling ringan azabnya, “Jika kamu memiliki bumi dan seisinya dan Aku tambahkan yang serupa, apakah kamu akan menggunakannya untuk menebus dirimu dari neraka ini?” Penghuni neraka menjawab “ iya ya Allah”, Maka dikatakan, “Aku(Allah)  hanya menginginkan sesuatu yang lebih ringan daripada itu ketika kamu berada dalam tulang sulbi Adam, yaitu janganlah kamu menyekutukan Aku dengan apa pun. Tetapi kamu tidak berkehendak kecuali menyekutukan Aku dengan hal lain. (HR. Bukhari dan Muslim).

Pelajaran dari hadist tersebut, betapapun banyak amalan yang kita bangun tetapi tidak didasari oleh ketauhidan dan keikhlasan kepada Allah swt maka amalan tersebut menjadi sia-sia. Sebagaimana telah dinyatakan dalam al qur’an “Dan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan ketika di dunia , lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. “(Al-Furqaan: 23).

Imam Ibunu Kusairi di dalam sebuah kitabnya membagi keikhlasan dalam tiga tingkatan :
1.      Ikhlasul abidin, yaitu ikhlasnya para hamba atau pekerja. Tipikal golongan ini adalah mengerjakan sesuatu berdasarkan perintah atau karena ada imbalan upah. Jika tidak ada perintah maka ia akan diam. Dalam pengamalan agama ia hanya menunaikan yang wajib saja karena sudah jelas perintahnya, atau amalan lain yang telah diketahui fadilah atau pahalanya,  sedang yang sunah ia tinggalkan. Termasuk golongan ini adalah gemar menghitung-hitung pahala.
2.      Ikhlasul arifin, yaitu keikhlasan orang yang sudah memiliki pengetahuan. Dia tahu/”arif” mana yang harus dikerjakan dan mana pula yang mesti ditinggalkan tanpa menunggu perintah terlebih dulu. Mereka berbuat “lebih”, lebih baik dan lebih banyak disbanding orang-orang kebiasaan, sehingga mereka dimasukkan kedalam golongan orang sholeh.
3.      Ikhlasul muhibbin, yaitu ikhlasnya para pecinta yaitu para nabi dan rasul. Inilah contoh keikhlasan tertinggi.
Sebagaimana telah dikisahkan oleh Abu Hurairah menceritakan, Rasulullah selalu shalat malam sampai kakinya bengkak. Kemudian Aisyah bertanya,”Mengapa engkau melakukannya sampai begitu padahal dosa-dosamu sudah diampuni oleh Allah?” Apa jawab beliau? “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR Ibnu Majah)
Itulah Rasul saw, mendapatkan fasilitas pengampunan dosa dan kemuliaan diantara para manusia membuktikan dengan kecintaan dan rasa syukur, sedang manusia jika mendapatkan fasilitas/nikmat cenderung lalai. Dan jika mendapatkan kesempitan hidup barulah ingat akan Tuhannya.

Kita tidak mungkin mencapai derajat para nabi dan rasul namun kita bisa mengupayakn untuk menjadi orang sholeh asalkan kita memenuhi dua syarat :
Yang pertama adalah sungguh-sungguh. Keinginan apapun tidak akan tercapai kecuali dengan kesungguhan, dan bila kita bersungguh-sungguh maka manfaatnya kembali kepada kita. “ Dan, barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka kemanfatannya kembali kepada dirinya”, qs al ankabut ayat 6.
Yang kedua adalah konsisten. Tetap istiqomah untuk beribadah apapun kondisinya  sebagaiman doa yang diajarkan kepada Muadz bin Jabal  Allahumma a’inee ‘ala dhikrika, wa shukrika, wa husni ibadatik.

Sesi Tanya jawab.
Tanya 1,  Bagaiman mengukur keikhlasan saat amal sedekah kita disebut di muka umum.
Jawab, “Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS:Al Baqarah:274).
Ukuran keikhlasan ada pada hati, jika diumumkan sedekah kemudian hati menjadi gembira dan timbul kebanggaan saat itulah telah jatuh riya dan hapuslah pahala sedekah tersebut. Ingatlah, riya bisa muncul diawal amal, pertengahan maupun akhir. Oleh karena itu keikhlasan harus dijaga terus-menerus, jika mulai timbul bibit riya segeralah basmi dengan istighfar dan memurnikan niat lagi.

Tanya 2, Apa parameter iman sedang naik atau sedang turun?
Jawab. Untuk mengetahui kondisi iman sedang naik ataukah  sedang turun tentu harus ada “raport”. Raport tersebut bisa ditanyakan kepada orang-orang terdedekat kita, kawan seruangan, sekantor, anggota keluarga, tentang kondisi kita, bagaimana mereka menilai kita. Anas ibn Malik meriwayatkan bahwasanya Rasulullah S.A.W bersabda :
“Ada tiga hal yang apabila ketiga-tiganya ada dalam diri seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman : Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dibanding yang lainnya, mencintai seseorang karena Allah, dan tidak suka kembali kafir sebagaimana tidak suka kalau dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari 16,21, dab 6790. Dan muslim 128)

Tanya 3, saat romadlon katanya setan dibelenggu, nyatanya kita saksikan banyak juga orang nongkrong diwarung siang hari.
Jawab. "Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu sorga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu." [HR. Muslim] Makna "shufidat as-syayaathiin" adalah membuat setan tidak berdaya, dibelenggu secara fisik, dirantai kemudian dibuang atau diasingkan ketempat yang jauh. Setan masih ada disekitar kita hanya saja daya godanya sudah sangat melemah. Jika masih tergoda, berarti kondisi keimanan sedang lemah.









Serial Nasehat Romadlon, puasa


Serial Nasehat Romadlon
Berikut ini adalah ceramah di masjid pada saat taraweh, sebagai pengingat dikemudian hari, ceramah tersebut saya tulis sebatas ingatan saya. Selamat menyimak.

Puasa, pengantar ke surga
Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu katanya, "Aku berkata (kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam): "Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke surga?" Beliau menjawab: "Hendaklah kamu sering berpuasa, tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu" [Hadits Riwayat Nasa'i 4/165, Ibnu Hibban hal. 232 Mawarid, Al-Hakim 1/421, sanadnya Shahih]
Apa istimewanya ibadah puasa sehingga bisa menghantarkan pelakunya masuk surga. Paling tidak ada tiga hikmah yang bisa kita petik.

Yang pertama.
Puasa melatih keikhlasan. Puasa adalah satu-satunya ibadah yang terbebas dari riya. Seseorang bisa memamerkan sholatnya dihadapan khalayak. Sedekah maupun zakat sangat mungkin untuk dipublikasikan. Patut diwaspadai fenomena orang super kaya yang membagikan zakatnya secara langsung kepada ratusan fakir miskin. Ibadah haji sulit untuk tidak diketahui oleh masyarakat, bagaimana tidak, berangkat dan kepulangan para hujaj diantara oleh sanak kerabat dan tetangga sekitar.
Puasa? Tidak ada yang bisa dipamerkan sekalipun dengan berpura-pura lemas.

Yang kedua,
Melatih ihsan.  Makna Ihsan yang kita fahami adalah “Anta’budallah ka annaka taraah, fa’inllam takun taraah, fa’innahu yaraaka.”“Engkau mengabdi kepada Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Saat sedang berpuasa, seorang hamba tidak berani melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, makan minum misalnya, sekalipun tidak ada yang menyaksikannya. Ia merasakan muroqobatullah, adanya pengawasan Allah swt. Dalam kondisi demikian, maka ia akan berupaya sekuat tenaga untuk membaguskan amalnya. Nabi SAW bersabda :”Man shoma Ramadhana imanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min  zambihi. Barangsiapa yang melaksanakan puasa karena iman dan ikhlas, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dalam hadis lainnya disebutkan “ Wa man qoma Ramadhana imanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min zanbihi”. Dan barangsiapa yang mengerjalan puasa dan sholat Tarawih pada bulan Ramadhan karena iman dan ikhlas, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ( HR Bukhari-Muslim ).
Jika ihsan tersebut tidak hadir dalam hati orang yang berpuasa, maka ia hanya mendapatkan lapar dan dahaga belaka. Muslim meriwayatkan sebuah hadis berasal dari Abu Hurairah, suatu ketika tatkala naik ke mimbar untuk berkhutbah,Nabi mengatakan : Amin, amin… Abu  Hurairah heran, lalu bertanya kenapa Nabi bercakap sendirian mengatakan Amin. Rupanya Nabi SAW  sedang didatangi Malaikat  Jibril yang mengatakan : Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan, sedangkan dia tidak mendapat ampunan Allah SWT, maka kemungkinan dia akan masuk ke neraka,  semakin jauh dari         ( rahmat )  Allah SWT.

Yang ketiga,
Melatih kedisiplinan. Tidak seorangpun berani menerjang waktu berbuka, sekalipun hanya semenit. Tidak pula akan berleha-leha menikmati makan sahur ketika telah mendengar sirene imsak. Ini adalah contoh kedisiplinan dalam hal waktu.
Kedisiplinan dalam hal amal bisa kita lihat, ramainya orang berbondong-bondong memenuhi musholah dan masjid untuk menegakkan sholat taraweh, melantunkan al qur’an,  sedekah, dzikir dan amalan lainnya. Ia harus rela bangun diujung malam untuk makan sahur. Saat sahur, manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya, sholatlah meski  hanya dua rokaat, perbanyaknya dzikir dan do’a, karena do’a pada sepertiga malam terakhir itu maqbul. Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tuhan kita Yang Maha Suci lagi Maha Luhur setiap malam turun ke langit dunia ketika malam tinggal sepertiga terakhir. Dia berfirman: Barang siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan kabulkan permohonannya. Dan barang siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.(HR. Muslim).  Kedisiplinan yang akan menghasilkan konsistensi beramal.

Itulah tiga hikmah puasa yang sangat kita fahami bahkan nyaris setiap tahun para khotib mengulasnya. Namun ingatlah, semua orang akan celaka kecuali yang berilmu. Orang berilmu akan celaka kecuali yang beramal. Orang beramal akan celaka kecuali orang yang ikhlas.

Maka siapa saja yang ikhlas amalnya, kemudian amal baiknya senantiasa diperbanyak, dan itu dilakukan secara konsisten sampai romadlon tahun depan, rasanya sangat wajar ia masuk surga, insyaallah.
Selamat beribadah.