Senin, 30 Mei 2011

tabiat kebenaran

Kebenaran, al haq, laksana air. Ia akan mengalir, menemukan jalannya  sampai ke muara untuk berkumpul dalam komunitas besar  di samudra raya.  Sesuai wataknya, ia akan senantiasa mencari jalur dan menerobos setiap celah sekecil apapun. Jika ada yang membendungnya, ia akan menghimpun kekuatan  dan mendobrak penghalang tersebut sesuai tuntutan masanya.

Air menjadi tuntutan dan dambaan manusia. Sejarah telah mencatat bahwa pernah terjadi perang besar di daratan timur tengah lantaran perebutan sumber air. Manusia tidak bisa dipisahkan hidupnya dari air dan mereka berlomba-lomba memanfaatkannya.


Dalam perjalanannya, tidak semua air sampai ke samudra. Sebagian dibelokan melalui saluran irigasi untuk mengairi pertanian, dan memanfaatkan energinya untuk menggerakkan turbin PLTA. Sebagian lagi untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat perkotaan. Sebagian yang lain menguap ke langit untuk kemudian turun menjadi rakhmat berupa hujan.

Apapun peran yang dilakukan oleh air, senantiasa memberikan kemanfatan bagi alam dan manusia. Kalaupun turun hujan kemudan terjadi  banjir, semata-mata bukan kesalahan air melainkan kesalahan manusia yang telah merusak ekosistem alam. Konsistensi hukum alam berupa keseimbangan ~tawazun~ tetap terjaga. Para ilmuwan meyakini bahwa air yang menguap kelangit dan jumlah curah hujan volumenya sama, tidak lebih dan tidak kurang alias equal.

Begitu pula dengan kebenaran. Manusia tidak bisa hidup tanpa kebenaran sebagaimana manusia tidak bisa hidup tanpa air.  Semua menginginkan kebenaran itu eksis dan menang, karena kemenangan kebenaran kemudian identik dengan keadilan, kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi . Pejuang kebenaran itulah yang disebut pahlawan, meski gambaran tentang pahlawan bagi setiap orang berbeda. 

Manusia  berdasarkan interaksinya  dengan kebenaran  terbagi menjadi tiga golongan.
Yang pertama, golongan yang memperjuangkan kebenaran dan siap menanggung resiko atas pilihan hidupnya. Karakteristik golongan ini adalah kecintaannya kepada kebenaran sangat luar biasa dan membenci kebatilan sebagaimana kebenciannya kepada neraka.  Ia berusaha menjaga dirinya tetap konsisten, kemudian mengajak keluarga, handai taulan dan masyarakat terdekatnya agar berada dalam naungan kebenaran, supaya  mendapatkan barokah serta kebahagiaan hidup. Menyelamatkan umat dari segala marabahaya yang mengintainya dan mendoakan keselamatan umat  pada sujud malamnya. Pada saat yang sama, ia akan meluruskan yang bengkok dan membuang penghalang. Resiko yang akan diterima dari para pihak yang merasa kepentingannya terancam. Orang baik bukan berarti tidak memiliki musuh, namun siapa musuh dan dalam rangka apa dimusuhi,  inilah substansi yang penting untuk dievaluasi. Mereka ibarat starting eleven bagi tim sepakbola dan menjadi starter disetiap even.

Yang kedua, Penikmat kebenaran. Golongan ini bergembira ketika kebenaran dominan dan bersedih jika kebenaran kalah.  Mereka adalah orang baik yang taat syariat dan tekun beribadah. Mereka mendukung kebenaran dengan cara aman. Mereka adalah para supporter dengan tingkat militansnya masing-masing.

Yang ketiga, golongan yang menentang kebenaran. Golongan ini bukannya tidak paham akan kebenaran, namun ada hijab antara dirinya dengan al haq. Hijab tersebut adalah kesombongan ~ al kibru~ dan faktor kepentingan. Contoh yang sangat populer dari kalangan bangsa jin adalah iblis, dan dari kalangan manusia para pembesar Kuraisy. Hidup sejaman bahkan berinteraksi langsung dengan Pembawa wahyu saw, tidaklah menjadi jaminan seseorang mendapatkan hidayah.

Golongan manakah kita? Saya yakin diantara kita tidak ada yang menginginkan termasuk dalam golongan yang ketiga, naudzubillah min dzalik. Masuknya seseorang kepada golongan tertentu adalah kondisional bukan merupakan status. Artinya, seseorang bisa saja tercatat sebagai anggauta jamaatul  haq ~jamaah yang concern memperjuangkan kebenaran~  yang dalam konteks kenegaraan disebut dengan partai politik. Jika amaliyahnya tidak sesuai dengan khittah/alur perjuangan partai maka sejatinya ia bukan kelompok pengususng kebenaran meski tercactat sebagai anggota partai. Itulah yang dikatakan oleh Hasan Al Bana, sang pendiri  Gerakan Persaudaraan Islam/Ikhwanul Muslimin di Mesir, “kam minna laisa fiina” yang artinya berapa banyak dari kami tapi sejatinya bukan dari kami.

 Maknanya, betapa banyak orang yang tercatat sebagai anggota jamaah namun kelakuannya bertentangan dengan  tujuan jamaah, sejatinya ia bukan anggota jamaah. Dan betapa banyak orang  yang berada diluar jamaah  namun visi misinya sesuai dengan jamaah, merekalah anggota kami dan kami bagian dari mereka. Inilah yang menjadi pembatas dan rambu-rambu yang menentukan termasuk diwilayah mana kita berdiri.

Semangat dan amaliyah untuk menegakkan kebenaran demi kemakmuran dan kesejahteraan bangsa harus direvitalisasi, tidak peduli siapa patner kita. Pada kesempatan yang lain, alm, Prof. Dr. Necmettin Erbakan, perdana menteri Turki yang sekaligus pimpinan Partai Raffah  mengatakan kami akan bekerja sama sekalipun dengan partai setan asalkan demi kemakmuran dan kesejahteraan Turki. Kita mendapat pahala lantaran amal bukan status keanggautaan pada  suatu partai.

Roda perjuangan senantiasa berputar, bagi yang tidak sigap dan hati-hati ia bisa terpental. Ada tokoh popular , kita kenal sebagai aktifis kebenaran, tiba-tiba muncul melakukan manuver menyerang  mantan koleganya. Sebagian orang sesak dadanya oleh berita tersebut, sebagian lagi ada yang marah, namun ada pula yang tertawa. Paginya sebagai pejuang kebenaran, sorenya sebagai penyeru kebatilan. Perginya sang tokoh akan segera diganti oleh figure lain yang mendapat hidayah dari Allah swt. Kejadian tersebut adalah fenomena biasa dalam kancah perjuangan. 

Datang dan pergi silih berganti. Datang bergabung dalam barisan kebenaran adalah rakhmat, dan pergi menuju kebatilan adalah adzab. Jika kepergiaan seseorang dari barisan kebenaran membuat semangat kita melemah dan turut mundur, maka kita sendirilah yang akan merugi. Kitalah  yang lebih membutuhkan kebenaran, bukan dia atau mereka.  Kita hanyalah setetes air, samudra tidak kering lantaran  kehilangan setetes air dan arus sungai tidak semakin deras lantaran setes air pula.

Berpangku tangan membiarkan kebatilan sama artinya dengan merestui kebatilan tersebut. Tidak ada pilihan bagi kita kecuali pro aktif mendukung kebenaran. Dalam konteks demokrasi, memberikan suara kepada caleg atau partai yang menurut penilaian kita baik adalah bentuk tanggung jawab bersama, sedangkan abstain sama saja dengan pembiaran atau acuh tak acuh.

Saat tim kesayangan ~tim kebenaran~ mengangkat tropi kemenangan, saat itulah momen bahagia yang dinantikan telah tiba. Namun ingat, bagi para supporter,  sekeras dan seriuh apapun kita bersorak, tetap saja kita harus membeli tiket masuk stadion dan kita tidak menikmati bonus yang diterima oleh tim, kecuali sebatas euphoria rasa bahagia. Jadi, marilah menjadi starting eleven dalam penegakan kebenaran, meski nama tim tidak harus sama. Selamat berjuang.

pensiun, kapan?!

Usia 40 tahun adalah golden age kedua, golden age pertama adalah pada masa balita. Pada usia tersebut, rata-rata manusia mendapatkan momentum terbaik dalam kehidupannya. Apa istimewanya? Ya pada usia 40 tahun adalah fase umur yang menandai kematangan dan kemapanan hidup. Kematangan dari segi fisik, emosi dan spiritual. Kemapanan karir, keluarga, ekonomi dan status sosial.

Perinciannya sebagai berikut, saat usia 40 tahun adalah fase dewasa dalam kehidupan manusia. Kekuatan fisiknya optimal, meski staminanya tidak sekuat ketika ia berumur dua puluhan, lebih tahan bekerja dalam waktu yang lama. Emosinya stabil, tidak grusa-grusu, tidak juga gampang nesu. Rasio antara emosi dan logika,  kombinasinya tepat sesuai dengan takaran permasalahannya. Kesadaran akan beragama juga tinggi bukan sekedar formalitas belaka.
Mapan, mapan karirnya, mapan ekonominya, mapan keluarganya dan mapan pula status sosialnya. Tentu tidak sulit bagi kita untuk  membayangkannya, karena kitalah pelakunya, dan note ini saya dedikasikan kepada kawan-kawan yang telah melampui umur 40-an.

Kondisi saat ini, tentu berbeda dengan lima atau sepuluh tahun yang lalu. Dulu, jika hendak liburan susah karena ndak punya ongkos. Kini, kalau mau liburan repot nyari waktunya luangnya. Kata orang Pasirian, time is money..lha lak sami mawon. He he he…..

Ingat, roda terus berputar dan waktu terus bergulir. Setelah mendaki, sampailah dipuncak dan biasanya ruang yang tersedia dipuncak sangat sempit, sedang para pendaki dibelakang kita terus berusaha untuk menyususl. Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, kita harus mulai menuruni bukit. Sunatullahnya, perjalanan menuruni bukit lebih berat dan lebih sulit dibanding ketika mendaki. Inilah yang harus kita persiapan. Pensiun.

Kawan, pensiun pasti  akan tiba. Pensiun akan terasa indah bila kita yang mendatangi pensiun tersebut, artinya kitalah yang merencanakan kapan kita akan pensiun. Setahun, lima tahun, sepuluh tahun atau pensiun  secara alami, tidak masalah asalkan telah kita rencanakan sejak sekarang. Jujur, saya prihatin melihat nasib para pensiunan yang hidupnya nelongso.

Ada banyak kiat agar masa pensiun menjadi masa indah dihari tua. Salah satu yang harus dipikirkan adalah adanya passive income diluar gaji pensiun nantinya. Bagaimana caranya, setiap orang pasti memiliki kiat yang berbeda tentunya. Berapapun besarannya penghasilan, tidak jadi soal,  asalkan cukup. Cukup buat beli istana yang ada kolam renangnya. Cukup untuk beli ferari buat berakhir pekan. Cukup untuk beli yacht agar bisa berlayar mengarungi samudra. Cukup untuk beli moge supaya bisa ikut konvoi. Lha untuk mencukupi itu semua, terus kapan pensiunnya….

Lagi pula, orang memasuki masa pensiun  tuntutan kebutuhannya tidak banyak. Jaga kesehatan psikis agar tidak mengalami post power syndrome. Saat tua, kesehatan psikis menetukan kesehatan jasmani. Sebagai bahan renungan, saya kutip
 “Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (Q.S. al-Ahqâf: 15)
  • Agar kita pandai bersyukur atas nikmat yang telah kita terima.
  • Beramal sholih sebagai bekal pension hakiki.
  • Berbakti kepada kedua orang tua/mertua.
  • Mendidik anak cucu agar menjadi pribadi sholeh.
Mari bersiap-siap dan berkemas.

Selasa, 17 Mei 2011

wah...nggak ada sinyal

wah...gak da sinyal
padahal aku ingin sms dan ngobrol dengan jeng sri
pie...ki jeng
aku gak berani kurang ajar kepada tuhan
dengan menitip salam
aku juga gak mau nitip salam kepada burung
karena gak yakin mereka akan bisa keluar dari rimba
tidak juga kepada angin
karena arahnya susah ditebak akibat pemanasan global

wah....gak da sinyal
oei...aku browsing tiket penerbangan sajalah
nanti kita bisa ketemuan
gak da sinyal gak pateken, kata mendiang sang presiden
lha...da lah
kartu debit dan kartu kredit kok gak kreatif
menampilkan pesan yang sama...access denied

horrreee....sekarang ada sinyal
tapi pulsaku telah habis
darmooooo....