Senin, 14 Januari 2013


Serial Taqwa 01

Taqwa, mungkin saja taqwa adalah kata yang paling popular bagi kita. Betapa tidak, semenjak usia dini kata tersebut sangat akrab ditelinga kita. Sering diulang-ulang dalam berbagai mata pelajaran dari SD sampai SLTA. Lebih sering lagi pada bulan romadlon, nyaris setiap khotib menyitir kata taqwa.

Tidak kalah populer adalah definisi (ta’rif) taqwa yang nyaris seragam, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhinya segala laranganNya. Tidak lebih dan tidak kurang, yang berbeda hanyalah variasi kalimatnya saja. Memang tidak ada yang salah dari definisi diatas. Namun, definisi tersebut adalah paradigma anak-anak. Pemahaman yang kita terima sewaktu kita masih sekolah dulu, masa setelah dewasa pemahaman kita tidak ikut tumbuh dewasa pula.

Definisi taqwa, insyaallah akan kita bahas pada  Serial Taqwa 02. Penyebutan kata taqwa  didalam al quran sebanyak 233 kali dalam bentuk kata benda maupun kata kerja. Pengulangan pesan taqwa bahkan menjadi syarat sah dalam khutbah jumat. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan taqwa itu sangat urgen.

Begitu pentingkah taqwa?
Bagi para pelaku taqwa, disebut muttaqiin, Allah swt menjanjikan reward yang sangat menarik. Menarik dari sisi ketepatan janji maupun substansinya. Ingat, janji Allah itu pasti dan tanpa diundi, asal syarat dan ketentuannya terpenuhi. Beda dengan janji bank swasta apalagi janji caleg.

Inilah hadiah bagi para muttaqiin : (penyebutan pertama kedua hanyalah urutan belaka )

Hadiah  PERTAMA adalah diberikan jalan keluar
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.          (Qr 65:2 ).
Hidup ini adalah ujian, segalanya dinilai dan harus dipertanggung jawabkan. Dalam konteks ini, hidup adalah masalah. Apapun menjadi masalah bagi hidup manusia. Senang jadi masalah, susah apalagi. Kaya masalah, miskin apalagi. Sehat masalah, sakit apalagi dan seterusnya.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Qr 21:35 ).
Maka apapun situasi  dan kondisi yang dihadapi oleh manusia akan berdimensi masalah. Seorang ahli tata kota ~beliau enggan disebut namanya~ dalam suatu kesempatan mengatakan sebenarnya pelaku bisnis, pemerintah, para stake holder tidak pernah secara sungguh-sungguh, tepat dan komprehensif mengatasi masalah warga perkotaan. Dalam suatu waktu kita berhasil mengatasi baby booming tapi dalam kesempatan yang lain muncul masalah sekolah tutup karena kekurangan murid. Pembukaan sawah baru memang mengatasi kekurangan beras, tetapi disaat memunculkan banjir dan pemanasan global. Mobil listrik bisa mengurangi emisi gas buang, tetapi pembangkit listrik batu bara membuang carbon lebih banyak lagi keudara. Satu masalah berhasil diurai dan dipecahkan, tetapi akan muncul masalah baru dengan intensitas sama atau lebih besar lagi. Begitulah seterusnya.
Kadang dalam kehidupan sehari-hari, kita jumpai seseorang yang tidak pernah lepas dari belitan masalah. Kawan lama saya, karena sering mengeluh “knalpot jabot” akhirnya  beliau dipanggil dengan sebutan pak “knalpot”. Beliau memiliki tiga orang anak. Tiap tahun ada anaknya yang lulus sekolah dan naek kelas, kebayang kan berapa biaya yang harus beliau tanggung. Belum lagi cerita sendu tentang orang tuanya yang sakit dan bergantian sehat dengan saudara yang lain. Sebagai putra sulung, tentu saja beban biaya pengobatan beliau pula yang menanggungnya. Wajar jika SK-nya turut sekolah ke-BRI.
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (Qr 18:7).
Semua persoalan yang kita hadapi, hanya untuk membuktikan siapakah yang paling baik amalnya. Setiap kita telah memilih peran dari lakon yang digariskan dalam script Yang Maha Kuasa. Taqwalah yang membuat kita mudah untuk menjalaninya.

Hadiah KEDUA adalah rejeki yang datangnya tidak disangka-sangka dan berkecukupan.
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Qr 65:3)
Setiap manusia pasti memiliki kebutuhan. Kebutuhan mendasar bagi manusia meliputi sandang pangan dan papan. Kebutuhan hidup manusia kemudian disusun lebih banyak dalam bentuk hirarki marslow. Apapun rumusannya, kebutuhan tersebut menuntut pemenuhan.
Aktifitas pemenuhan kebutuhan ~disebut ma’isyah~ melalui kerja sehari-hari bila diniatkan pengabdian kepada Allah maka akan bernilai sebagai ibadah. Penat, capek seharian bekerja bisa mengurangi dosa seorang hamba. Kabar gembira dari Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya seseorang di antara kamu yang berpagi-pagi dalam mencari rejeki, memikul kayu kemudian bersedekah sebagian darinya dan mencukupkan diri dari (meminta-minta) kepada orang lain, adalah lebih baik ketimbang meminta-minta kepada seseorang, yang mungkin diberi atau ditolak." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kadar rejeki setiap manusia berbeda. Seberapa banyak, dan kapan rejeki tersebut ditunaikan itu mutlak hak prerogratif Allah. Namun yakinlah, bahwa setiap insan telah dijamin rejekinya sampai ia menjemput maut. Taqwa adalah kunci pembuka rejeki dan menyegerakan rejeki untuk segera datang.
Suatu waktu, kita diuji dengan masalah yang datangnya bertubi-tubi, seakan tiada habisnya. Kepala berputar seperti bumi mengelilingi matahari, dunia serasa sumpek, nyrepek istilah jawanya. Dalam kondisi tersebut, tawakal dan kepasrahan secara tulus dan memohon pertolongan Allah adalah langkah terbaik. Dan Allah memberikan jalan keluarnya. Indah bukan ?!
Tidak kalah pentingnya, perspektif tentang rejeki harus ditata ulang. Seringkali kita menganggap bahwa rejeki adalah atas apa yang kita miliki. Bukan,rejeki adalah apa yang kita nikmati. Rejeki kita adalah baju yang kita kenakan, bukan koleksi baju yang ada dilemari. Rejeki kita adalah makanan yang sudah kita suap kemulut bukan hidangan dimeja makan, dan seterusnya. Apalah artinya banyak memiliki atau mengkoleksi  tetapi tidak bisa menikmati. Si miskin bisa tertawa, si kaya kadang merana. Jadi tidak perlu sawang sinawang melihat kekayaan orang lain, karena bahagia adalah semua hamba.

Hadiah KETIGA  adalah kemudahan.
                                           وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Qr 64:4)
Islam mengajarkan pemeluknya untuk bersikap optimis. Ucapan Ali yang sangat terkenal dikalangan motivator adalah jangan katakan ,” Ya Allah, aku memiliki  masalah  besar sekali tetapi katakanlah       “Wahai masalah, aku punya Allah Yang Maha Besar!
Bukan masalah mahal atau murah jika kita mampu membayarnya. Bukan pula tentang berat atau ringan jika kita mampu menanggungnya. Jika Allah telah menolong seorang hamba, maka apapun yang tadinya mustahil akan menjadi niscaya.
Berbeda dengan undian bank, satu nasabah satu hadiah, setiap nasabah Allah bisa mendapatkan  hadiah secara komulatif alias borongan, hadiah pertama kedua dan ketiga boleh dimiliki sekaligus. Hadiah tersebut tidak habis meski dibadikan keseluruh warga dunia.
Masih kurang? Ada hadiah  tambahan menarik lainnya yang sayang untuk dilewatkan yaitu
ذَٰلِكَ أَمْرُ اللَّهِ أَنْزَلَهُ إِلَيْكُمْ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا
Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (Qr 65:5).
Jadi tunggu apalagi segera tingkatkan terus saldo taqwa kita, saya dan anda, untuk memperoleh hadiah yang pasti kita dapatkan.

S E L A M A T…..ANDA MENANG!!!!!!!












Tidak ada komentar:

Posting Komentar