Senin, 04 Desember 2017

Serial Taqwa 02

Serial Taqwa 02

Alhamdulillah, sholawat dan salam hanya bagimu ya Rasulullah saw.
Alhamdulillah saya berkesempatan meneruskan serial taqwa yang kedua. 

Definisi menyangkut pemahaman makna dan ruang lingkup pembahasan sebuah topik. Definisi tersebut juga membatasi agar ide atau tema yang dibicarakan tidak melebar kemana-mana, sehingga konstruksi pemahaman bisa dibentuk. Itulah sebabnya mengapa definisi menjadi penting kita bicarakan.

Anak kecil ketika menemukan benda apa saja bisa ia gunakan sebagai mainan. Kotak bungkus sepatu bisa ia mainkan maju mundur sambil mendubbing suara ngeng…ngeng…Sedang apa dik ?, main mobil-mobilan Pa. Dengan berimajinasi, anak-anak kita bisa memainkan apapun. Kedewasaan kita menetukan kesempurnaan  batasan definisi setiap makna yang akan kita mainkan dalam kehidupan nyata. Definisi membentuk paradigma.

Hati yang jernih akan mampu menangkap setiap makna dan menggali lapisan hikmah yang terkandung didalamnya. Pada suatu kesempatan mata kuliah tafsir qur`an, Dosen saya menjelaskan, andai umur manusia dilipatkan 150 kali untuk menggali makna yang ada didalam al qur`an niscaya tidak akan pernah cukup, pun dengan penambahan serupa.

Kata taqwa tersusun dari lima huruf dan akan tetap seperti itu. Kitalah yang membuat arti taqwa terasa berbeda. Hati dan pikiran yang terbuka akan menyingkap cakrawala makna yang luas dan sikap acceptance akan mengantarkan kita untuk mampu mengangkat setiap lapisan hikmah  secara lebih mendalam.  Sehingga kata taqwa memiliki nilai istimewa bagi kita, dan saat disebutkan kata taqwa hati ini bergetar. Ketika dibaca ayat … يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا dada bergemuruh merasakan panggilan tersebut. Saat itu, betapa mulianya kita sebagai manusia.

Kemuliaan tersebut akan terus terangkat ketempat tinggi bahkan tertinggi seiring dengan ketinggian taqwa manusia.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al Hujurat ayat 13).

Syekh Thaha Abdullah al Afifi mengutip ungkapan sahabat Ali bin Abi Thalib ra tentang taqwa, yaitu:


الْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ وَاْلإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ وَالرِّضَا بِالْقَلِيْلِ

1.     Takut kepada Allah yang Maha Mulia,
2.      Mengamalkan apa yang termuat dalam at tanzil (Al-Qur’an),
3.      Mempersiapkan diri untuk hari meninggalkan dunia
4.      Ridha (puas) dengan hidup seadanya (sedikit).

Inilah definisi taqwa  paling lengkap. Insyaallah akan kita jabarkan dalam waktu yang akan datang. 













Minggu, 03 Desember 2017

Perjalanan

Hidup adalah sebuah perjalanan. Setiap manusia  pasti diperjalankan. Perjalanan itu sendiri unik, karena kisah perjalanan setiap manusia tentu berbeda. Ada durasi berupa waktu tempuh  dan ada pula pencapaian berupa jarak tempuh.  Yang sudah pasti sama adalah setiap kita menginginkan sukses dalam perjalanan tersebut.

Perjalanan akan menyenangkan bila ia telah jelas definisinya sejak awal. Dimulai dari mana dan akan berakhir dimana. Dibutuhkan sebuah peta yang menggambarkan cakupan area, wilayah yang akan dilalui. Kemudian  juga diperlukan  guide yang memandu dan memilihkan rute mana yang harus dilalui. Ternyata masih kurang, dibutuhkan pula teman perjalanan.

Perjalanan adalah kisah. Rute manapun yang kita pilih untuk dilalui, pastilah akan kita jumpai orang-orang yang menempuh rute yang sama dengan kita. Jadi jangan khawatir kita akan kesepian atau tidak memperoleh kawan dalam perjalanan. Namun yang perlu diingat adalah bahwa setiap rute memiliki ciri dan karakter khas masing-masing. Karenanya, kita harus siap dengan konsekuensi pada setiap rute.

Sebagai sebuah kisah, tentu banyak pengalaman dalam suka duka  perjalanan. Dan kita tidak perlu menghabiskan waktu dengan melakukan trial and error berulang kali. Lelah yang tidak berkesudahan nantinya. Guru yang yang baik adalah pengalaman sukses orang lain. Nah kepada siapa kita akan berguru ?  Syaratnya hanya satu, jadilah murid yang baik.

Tidak ada jarak yang jauh kecuali kita menempuhnya. Sekarang, mulailah selangkah demi selangkah.  Ya saat ini saya sedang memulai langkah awal. Saya merasa gagap, grogi kadang juga merasa gagal. Saya sudah bertekad tidak menyerah dan terus melangkah. Guru saya mengajari, jika sudah melangkah yang kedua, maka langkah ketiga akan lebih mudah begitu seterusnya. Kita hanya perlu mencobanya, lakukan…lakukan…lakukan berulang-ulang, sampai akhirnya kita berpengalaman.

Kita telah meninggalkan jejak sejak langkah awal. Tanpa kita sadari pula, kita telah meninggalkan pelajaran berupa pengalaman sukses untuk orang lain. Belajar sambil mengajar. Jadi, jangan pernah ragu dengan langkah awal.

Selamat menempuh perjalanan.